Sabtu, 09 Juli 2011

Suhita

Melepas Suami Demi Tahta

Masih di seputar zaman Kerajaan Majapahit, yang ibukotanya berlokasi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, di mana kekuasaannya sempat meliputi seluruh wilayah Indonesia sekarang ini ditambah negeri-negeri di sekitarnya. Seperti diketahui, salah satu raja yang tersohor dari dinasti itu adalah Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389 M. Sedangkan Suhita adalah cicitnya.

Menurut Pararaton, ibu Suhita adalah Bhre Mataram dan Bhre Mataram itu adalah anak perempuan Bhre Wirabumi (penguasa Balambangan). Sedangkan Bhre Wirabumi adalah anak laki-laki Hayam Wuruk dari selir

Bhre Mataram yang menjadi ibu Suhita tersebut, menurut Pararaton, adalah isteri kedua dari Wikramawardhana/Hyang Wisesa. Sedangkan isteri pertama Wikramawardhana adalah Kusumawardhani/Bhre Lasem, anak Hayam Wuruk dari permaisurinya yang bernama Paduka Sori / Bre Parameswara[1]. Wikramawardhana bersama Kusumawardhani menjadi pengganti Hayam Wuruk sejak tahun 1389 M.

Semula tahta Majapahit akan diturunkan kepada Hyang Wekasing Suka, anak Wikramawardhana dengan Kusumawardhani. Namun Hyang Wekasing Suka ini meninggal tahun 1400 M. Karena Wikramawardhana ingin menjadi resi, maka tahta diserahkan kepada Suhita.

Keputusan Wikramawardhana menyerahkan tahta kepada Suhita tersebut – menurut sejarah - ternyata menyinggung perasaan Bhre Wirabumi. Kemungkinan besar Suhita dianggap oleh Bhre Wirabumi tidak berhak atas tahta karena Suhita masih terhitung sebagai cucunya, sementara dia sendiri, sebagai anak Hayam Wuruk, masih hidup dan tentunya lebih berhak untuk mewarisi tahta Majapahit. Karena alasan inilah pada tahun 1401, Bhre Wirabumi menyerang Majapahit. Wikramawardhana terpaksa menunda rencananya untuk menjadi resi. Ia turun ke gelanggang untuk menghadapi Bhre Wirabumi.

Mula-mula Wikramawardhana kalah, namun dengan bantuan Bhre Tumapel Parameswara akhirnya Wikramawardhana mampu bangkit dari kekalahan. Perang saudara – yang dinamakan perang Paregreg- tersebut selesai pada tahun 1406 dengan tewasnya Bhre Wirabhumi yang dibunuh[2] oleh Bhre Narapati Raden Gajah (utusan Wikramawardhana). Dengan tewasnya Wirabhumi, tahta Balambangan diisi oleh Menak Sembuju[3]

Perang yang melemahkan Majapahit tersebut juga sempat menyebabkan tewasnya sekitar170 anak buah Cheng Ho yang sedang mengunjungi Jawa pada tahun 1406. Saat itu Cheng Ho dan anak buahnya sedang berada di bagian timur Pulau Jawa. Entah bagaimana ceritanya ketika terjadi perang saudara antara Wikramawardhana dengan Bre Wirabumi terjadi kekacauan. Tentara Wikramawardhana menewaskan tentara Cina itu tanpa sengaja. Atas kesalahan yang tidak disengaja ini Cheng Ho tidak menuntut balas walaupun kaisar Ming tetap menuntut ganti rugi dengan emas 60.000 tail [4].

Pada zaman Wikramawardhana bertahta di Majapahit didampingi anaknya, Suhita, kerajaan Majapahit memang telah menjadi lemah. Mungkin karena perang itu, konsentrasi pasukan dipindahkan ke Jawa sehingga kemampuan untuk mengendalikan pemisahan di daerah-daerah luar jawa menjadi berkurang. Beberapa catatan yang menggambarkan bahwa di masa Wikramawardhana itu Majapahit dalam keadaan lemah antara lain adalah[5] :

· Kalimantan Barat, yang pada tahun 1368 sempat diganggu oleh Sulu dengan bantuan Cina, pada tahun 1405 tunduk secara total kepada Tiongkok tanpa sedikitpun tindakan dari Majapahit.

· Palembang dan Melayu, pada tahun 1405, sudah bebas berdagang dengan Tiongkok namun pada tahun itu pula bajak laut Cina berhasil menguasai Palembang dan Jambi.

· Brunei, pada tahun 1406, juga sudah melakukan hubungan dengan di Negeri Cina yang waktu itu diperintah Dinasti Ming.

Pada tahun 1427, Wikramawardhana benar-benar turun tahta. Suhita – anak Wikramawardhana - meneruskan pemerintahannya (1427-1447) tanpa ada hambatan seperti pada saat Bhre Wirabumi masih hidup[6]. Beberapa hal yang dicatat dalam sejarah selama masa pemerintahan Suhita antara lain adalah[7] :

· Munculnya berbagai tempat pemujaan di lereng gunung yang mana bangunannya disusun sebagai punden berundak (di Gunung Penanggungan, Candi Sukuh dan Ceta di lereng Gunung Lawu, dsb). Juga terdapat batur-batur untuk persajian, tugu-tugu batu (menhir), gambar-gambar binatang ajaib yang memiliki arti sebagai lambang tenaga gaib, dll.

· Dalam masa pemerintahan Suhita terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Bhre Daha.

· Raden Gajah, yang dianggap berjasa membunuh Bhre Wirabhumi pada tahun 1406, dibunuh (mungkin karena balas dendam dari keluarga Wirabumi) pada tahun 1433.

· Bali masih berada di bawah kekuasaan Majapahit pada tahun 1430.

· Sunan Ampel / Raden Rahmat mulai menetap di Ampel Surabaya sekitar tahun 1431 setelah pulang dari Haji.

· Cheng Ho masih melakukan muhibah ke Jawa antara tahun 1431-1433 dalam rute pelayaran Arab-India-Cina.

· Hubungan Cina dengan Sumatera terputus pada tahun 1433 (mungkin sejak Cheng Ho wafat).

· Di Sumatera bagian timur dan utara muncul kerajaan-kerajaan kecil yang bebas merdeka untuk berhubungan negara lain di luar kendli Majapahit.

Suhita semula menikah dengan Hyang Parameswara, yang mungkin masih kerabat/ keluarga Majapahit. Karena di Majapahit terjadi banyak perselisihan dan intrik-intrik politik, Hyang Parameswara tidak mau tinggal di Majapahit. Diberitakan ia pergi ke Palembang lalu ke Tumasik (Singapura sekarang) dan dialah yang diduga menjadi pendiri Kerajaan Malaka[8]. Suhita – karena masih memegang tahta Majapahit – diberitakan tidak mau mengikutinya[9].

Ratu Suhita wafat tahun 1447. Karena tidak punya anak, ia digantikan oleh adik tirinya, Bhre Tumapel Dyah Kartawijaya (Brawijaya I), anak Wikramawardhana. Kartawijaya memerintah sampai dengan wafatnya, tahun 1451[10].

Hikmah yang dapat dipetik dari sejarah tentang Suhita antara lain adalah :

· Suhita harus mempertahankan tahta yang diwariskan oleh ayahandanya sehingga ia terlibat dalam kemelut perpolitikan di Majapahit dan merelakan suaminya pergi.

· Dalam kemelut politik yang menyebabkan perang tersebut, Suhita mau tidak mau harus berhadapan dengan keluarganya sendiri. Di saat awal dia tidak sanggup menjadi raja sehingga ayahandanya ikut membantu. Akhirnya tahun 1427, ia benar-benar mampu sendirian memegang kerajaan sebagai raja puteri.

Referensi :
· HJ De Graaf dan TH G TH Pigeaud, 1989. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Grafitipers, Jakarta
· Umar Hasyim, 1981. Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Penerbit Menara Kudus, Kudus.
· Soekmono, 1993. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II. Penerbit Kanisius, Jakarta
· DGE Hall, 1988. Sejarah Asia Tenggara.. Usaha Nasional, Surabaya.
· Umar Hasyim, 1979. Sunan Giri. Penerbit Menara Kudus, Kudus.
· Widji Saksono, 1995. Mengislamkan Tanah Jawa : Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Mizan, Bandung
· Solichin Salam,1960. Sekitar Walisanga. Penerbit Menara Kudus, Kudus
· Helwig, W.L., 1994. Sejarah Gereja Kristus I. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
· Suwaji Bastomi, 1996. Karya Budaya KGPAA Mangkunegara I-VIII. IKIP Semarang Press, Semarang
· Natsir Arsyad, 1993. Seputar Sejarah & Muamalah. Penerbit Al Bayan, Bandung.
· Muchtar Lutfi, Suwardi, Anwar Syair dan Umar Amin, 1996. Sejarah Riau. Biro Bina Sosial Setwilda Tingkat I Riau.
· Kong Yuan Zhi, 1992. Sam Po Kong Dan Indonesia (Editor HM Hembing Wijayakusuma). Penerbit CV Haji Masagung. Jakarta


[1] HJ De Graaf dan TH G TH Pigeaud, 1989 serta Soekmono, 1993.

[2] DGE Hall, 1988.

[3] Umar Hasyim, 1979

[4] Pelayaran pertama Cheng Ho (Zheng He) dimulai bulan Juli 1405 (sampai dengan Oktober 1407). Jumlah kapal yang mengikuti pelayaran itu lebih lebih dari 200 buah (termasuk di dalamnya 62 kapal besar). Kapasitas kapal yang terbesar sekitar 2500 ton. Total jumlah awak kapal 27.800 orang. Kelak pada pelayaran keduanya, tahun 1408, Cheng Ho menerima 10.000 tail emas dari Wikramawardhana sehingga masih kurang 50.000 tail emas lagi. Sebab itu Menteri Protokol Kerajaan Ming menganjurkan agar utusan Wikramawardhana dijebloskan ke penjara. Namun Kaisar Ming menghapuskan hutang tersebut karena Wikramawardhana telah mengakui kesalahannya (Kong Yuan Zhi, 1992).

[5] Soekmono, 1993 dan Kong Yuan Zhi, 1992

[6] Umar Hasyim, 1981

[7] Soekmono, 1993, DGE Hall, 1988 dan M Natsir Arsyad, 1993

[8] Pada tahun 1401, seorang pangeran bernama Parameswara (yang berarti suami dari permaisuri) berkoalisi dengan seorang pemimpin yang bersekutu dengan Siam membunuh penguasa Tumasik (Singapura sekarang). Menurut dugaan, Parameswara adalah suami dari seorang puteri Majapahit (mungkin Suhita) yang mengungsi ke Tumasik pada tahun 1400, sewaktu terjadi perang saudara di Majapahit. Menurut tradisi Palembang, ia dianggap sebagai seorang pangeran Syailendra dari Palembang.

Tahun 1402, Raja Pahang / Patani (waktu itu menjadi bawahan Siam, yang juga saudara penguasa yang dibunuh Parameswara) mendesak Parameswara agar keluar dari Tumasik. Parameswara lalu mengungsi dan mendirikan Malaka dibantu orang-orang dari Palembang. Orang yang mendirikan Malaka pada tahun 1402 inilah yang kelak pada tahun 1414 memeluk agama Islam. Ia adalah raja Malaka pertama yang masuk Islam. Menurut dugaan, ia masuk Islam karena kawin dengan puteri Sultan Pasai. Ia kemudian bergelar Sultan Iskandar Syah / Megat Iskandar Syah. Diperkirakan pada saat masuk Islam tersebut usianya sudah mencapai 72 tahun (berarti lahir sekitar 1342). Ia meninggal tahun 1424 dan digantikan oleh anaknya yang bergelar Sri Maharaja (gelar kuno Sriwijaya) (1424-1444). Kerajaan Malaka yang telah menerima misi Cina pada tahun 1403, menuntut wilayah Palembang pada tahun 1407. Kaisar Cina menolak tuntutan tersebut dan menyerahkan Palembang kepada Majapahit (DGE Hall, 1988, Solichin Salam,1960, Muchtar Lutfi, Suwardi, Anwar Syair dan Umar Amin, 1996).

[9] Umar Hasyim, 1981

[10] Kartawijaya mendirikan prasasti Waringin Pitu. Dalam prasasti tersebut disebutkan 5 pangeran dalam urutan hirarki Majapahit, yakni : (1) Bhre Kahuripan Rajasawardhana / Sang Sinagara (kemungkinan anak sulung Kartawijaya atau Bhre Pamotan), (2) Bhre Wengker Girisawardhana (anak kedua Kartawijaya), (3) Bhre Tumapel Suraprabhawa (anak bungsu Kertawijaya / suami Bhre Singapura), (4) Bhre Matahun Samarawijaya (kemungkinan anak Sang Sinagara), (5) Bhre Keling Wijayakarana / Girindrawardhana (kemungkinan anak Sang Sinagara). Mungkin pula Bhre Kahuripan Rajasawardhana adalah saudara Kertawijaya atau mungkin menantu Kertawijaya yang kawin dengan Bhre Daha / puteri Kertawijaya (Widji Saksono, 1995, DGE Hall, 1988, Soekmono, 1993, dan Solichin Salam,1960)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar