Minggu, 10 Juli 2011

Sekar Kedaton Pajang

Skandal Asmara Keputren

Di Ibukota Pajang, pada zaman Jaka Tingkir (Prabu Hadiwijaya) memerintah (1549-1587), tinggallah ipar Senopati/Sutawijaya yang bernama Tumenggung Mayang. Puteranya bernama Raden Pabelan adalah seorang pemuda yang tampan. Kelemahannya adalah suka mengganggu dan merayu wanita.

Ayahnya yang tahu perilaku anaknya itu telah berkali-kali menyuruhnya kawin namun sang anak tidak mau. Karena putus asa – menurut Babad Tanah Jawi – maka sang ayah bermaksud mencelakakan anaknya dengan jebakan. Ia menyuruh sang anak agar tidak bermain asmara dengan sembarang gadis. Ia ditantang untuk bisa menggaet puteri Sultan Hadiwijaya yang bernama Ratu Sekar Kedaton atau Ratu Hemas[1].

Suatu saat abdi sang puteri yang bernama Soka sedang berbelanja di pasar. Raden Pabelan menitipkan bunga cempaka yang telah kering namun wangi bersama surat kepadanya untuk disampaikan kepada sang puteri. Rupanya sang puteri yang dipingit dalam istana jatuh hati. Sang puteri mengundang Raden Pabelan untuk masuk ke keputren di malam hari.

Raden Pabelan ada dalam keputren selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya para abdi keputren yang mengetahui, melaporkannya kepada Sultan. Sultan Adiwijaya marah. Dua panglima tamtama – Wirakerti dan Suratanu – bersama 22 prajurit diperintahkan untuk menangkap.

Dengan janji-janji akhirnya Raden Pabelan keluar dari keputren dan di saat itu pula ia ditusuk oleh Wirakerti dengan kerisnya. Menurut kisah jenazahnya dilemparkan ke Sungai Laweyan.

Akibat peristiwa ini, Tumenggung Mayang kena marah. Ia dibuang ke Semarang dikawal oleh 80 mantri dan 1000 prajurit. Namun isteri Tumenggung Mayang cepat-cepat mengirim utusan kepada Senopati / Sutawijaya di Mataram. Senopati yang marah mengerahkan orang-orangnya dan Tumenggung Mayang berhasil direbut di Jatijajar (dekat Ungaran) kemudian dibawa ke Mataram.

Tidak diketahui mengenai kisah Ratu Sekar Kedaton selanjutnya, apakah ia dihukum ataukah kawin dengan lelaki lain. Sementara mengenai mayat Raden Pabelan ada kisahnya sendiri. Dikabarkan bahwa mayat Pabelan yang dibuang ke Sungai Lawiyan (Sungai Braja) hanyut dan ditemukan oleh Kyai Gede Sala lalu dikebumikan tempat yang kemudian disebut Bathangan (makam itu sekarang berada di kawasan Beteng Plaza, Kelurahan Kedung Lumbu)[2]

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Ratu Sekar Kedaton di antaranya adalah :

· Ada lelaki yang libidonya tinggi, karena itu ia banyak membuat korban. Apalagi ia anak seorang pembesar.

· Sang puteri kena rayuan. Mungkin karena dipingit sehingga tidak tahu dunia luar itulah yang menyebabkan ia tidak kuat rayuan. Mungkin itulah satu-satunya rayuan yang dating atau yang berani dating kepadanya. Rayuan itu diterima dan tanpa kenal etika dan norma lagi ia berani mengajak orang lain untuk masuk ke kamarnya. Terjadilah peristiwa yang menggemparkan itu.

Sumber :

· HJ De Graaf, 1987. Awal Kebangkitan Mataram. Grafitipers, Jakarta

· www javapalace org, 2003




[1] Jaka Tingkir/Sultan Hadiwijaya mempunyai beberapa anak. Yang tercatat di antaranya adalah (1) Pangeran Banawa I, (2) seorang wanita yang menjadi isteri Aria Pangiri / Adipati Demak, (3) seorang wanita yang menjadi isteri Adipati Tuban dan (4) Ratu Sekar Kedaton.

[2] Menurut cerita (Atmodarminto, 1955: 83; Almanak Cahya Mataram, 1921: 53; Dirjosubrata, 1928: 75-76), mayat Raden Pabelan yang dihanyutkan (“dilarung”) di sungai Lawiyan (sungai Braja), akhirnya terdampar di pinggir sungai dekat Desa Sala. Bekel Kyai Sala, yang saat itu sebagai penguasa Desa Sala, pagi hari ketika pergi ke sungai melihat mayat. Ia mendorong mayat itu ke tengah sungai agar hanyut. Mayat itu kemudian hanyut dibawa arus air sungai Braja. Tetapi pada pagi berikutnya, Kyai Gede Sala sangat heran karena kembali menemukan mayat tersebut sudah berada di tempatnya semula. Sekali lagi mayat itu dihanyutkan ke sungai. Namun anehnya, pagi berikutnya peristiwa sebelumnya berulang lagi. Kyai Gede Sala menjadi sangat heran dan tafakur minta petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah tiga hari tiga malam bertapa, Kyai Gede Sala mendapat ilham. Ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda gagah. Dalam mimpinya tersebut sang pemuda mengatakan bahwa dialah yang menjadi mayat itu dan mohon agar Kyai Gede Sala menguburkannya di situ. Namun sayang, sebelum sempat menanyakan asal dan namanya, pemuda tersebut telah raib. Akhirnya Kyai Gede Sala memakamkan mayat pemuda tersebut di dekat desa Sala. Penduduk menamakan mayat itu Kyai Bathang (bathang = mayat). Sedangkan tempat makamnya - sekarang berada di kawasan Beteng Plaza, Kelurahan Kedung Lumbu disebut disebut Bathangan. Penduduk - waktu itu - menganggap bahwa dengan adanya Kyai Bathang, maka desa Sala menjadi makin raharja (sala = raharja atau kehidupan rakyatnya serba kecukupan dan tenang tenteram) (Roorda, 1901:861 dalam www javapalace org, 2003).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar