Minggu, 10 Juli 2011

Nyi Adisara & Retno Dumilah

Pemulus Ekspansionisme Mataram

Madiun yang terletak di Jawa Timur bagian barat menyimpan banyak riwayat sejarah dan legenda. Di antaranya adalah kisah sejarah tentang dua wanita yang bernama Retno Dumilah atau Retno Jumilah dan Nyi Adisara.

Sebelum membahas kisah tersebut, ada baiknya kita menengok sejarah yang melatarbelakanginya. Diceritakan bahwa Senopati atau Sutawijaya, penguasa pertama Kerajaan Mataram, relatif sangat ekspansif selama masa pemerintahannya. Dia berkehendak untuk menguasai tanah Jawa seperti yang pernah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan pendahulunya (Demak dan Pajang).

Senopati tahun 1587 berhasil mengalahkan mertuanya, Sultan Hadiwijaya, Raja di Pajang. Latar belakang penyebabnya ada beberapa kemungkinan. Di antara penyebabnya adalah kebiasaan Sultan Pajang yang suka kawin dan kasus Tumenggung Mayang (anak Tumenggung Mayang meniduri puteri Adiwijaya).

Saat Raja Pajang wafat, tahun 1587, beberapa saat setelah perang dengan Senopati, maka Sunan Kudus mengundang anak dan menantu Sultan Pajang. Di depan khalayak ramai, Aria Pangiri, menantu Adiwijaya yang waktu itu menjadi Adipati Demak, diangkat oleh Sunan Kudus menjadi pengganti Sultan Pajang. Sementara itu Jipang diserahkan kepada Pangeran Banawa (I), anak tertua Sultan Pajang[1].

Adipati Demak setelah pengumuman itu lalu pindah ke Pajang dan membawa banyak orang Demak ke sana. Ketidakadilan timbul sehingga menyebabkan banyak orang Pajang membelot. Di antaranya ada yang ke Mataram.

Kegelisahan di Pajang ini juga dirasakan oleh Pangeran Banawa (I) yang lantas mengirim utusan ke Mataram. Setelah dirayu lebih dari sekali, apalagi Pangeran Banawa berjanji akan menyerahkan tahta Pajang kepada Senopati daripada kepada Aria Pangiri, maka pada pertemuan keduanya di Weru Gunung Kidul, terjadilah kesepakatan Banawa dengan Senopati untuk menyerbu Pajang.

Pajang direbut setelah melalui pertempuran singkat. Kekalahan Aria Pangiri terutama disebabkan karena adanya pembelotan tentaranya. Aria Pangiri tidak dibunuh namun dikabarkan kembali ke Demak. Kabar lain mneyatakan bahwa ia mengungsi bersama keluarganya hingga sampai ke Banten[2].

Banawa diangkat Senopati menjadi Sultan Pajang walaupun sesungguhnya tidak mau. Setahun kemudian, sekitar tahun 1588 ia dikabarkan meninggal atau pergi bertapa. Gagakbaning, adik ipar Senopati, diangkat menjadi adipati di Pajang. Dengan demikian Mataram relatif telah berkuasa atas Pajang, Demak dan berbagai kadipaten bawahan Pajang sebelumnya.

Senopati masih belum puas sebab para penguasa Jawa Timur yang semasa jaka Tingkir tunduk patuh kepada Pajang, beramai-ramai melepaskan diri dan membentuk aliansi di bawah pimpinan Pangeran dari Surabaya.

Untuk mendapatkan kembali legitimasi atas kekuasaannya di Tanah Jawa, sekitar tahun 1589, Senopati mengirim surat kepada Sunan di Giri (kalau tidak Sunan Giri Parapen mungkin anaknya Panembahan Kawisguwa yang merupakan Sunan Giri yang pertama). Senopati meminta ramalan yang berkaitan dengan rencana serangannya ke Jawa Timur.

Sunan di Giri mengundang Senopati. Pada bulan Muharam Senopati bernagkat bersama Adipati Pati. Demak dan Grobogan serta penasehat setianya, Ki Juru Martani/Adipati Mandaraka. Mereka yang disertai sekitar 6000 prajurut sampai di Japan/Mojokerto. Di sana ternyata telah berkumpul para adipati Jawa Timur dipimpin Pangeran Surabaya bersama 40.000 prajurit. Rupanya Mereka bersiap-siap menghalangi serbuan Senopati.

Sunan di Giri mengirim utusan untuk melerai mereka. Dua kali Sunan dari Giri memberikan teka-teki melalui utusannya sehingga perang dapat dicegah dan kembalilah prajurit Mataram ke Jawa Tengah[3].

Setelah Mataram gagal di Mojokerto tahun 1589, Senopati melakukan konsolidasi. Di antaranya adalah mencari dukungan dari para rohaniawan. Dari Sunan Giri ia mendapatkan gelar sebagai panembahan. Sedang dari Sunan yang berada di Kadilangu ia mendapatkan bebrapa pusaka perlambang kesaktian. Di antaranya adalah Kiai Gundil / Kiai Antakusuma dari Sunan Kadilangu.

Senopati juga mencari dukungan dari para penguasa di Jawa Tengah. Baik yang berada di selatan maupun yang berada di utara. Dalam hal ini orang yang berjasa dan berwibawa untuk melakukan hal ini adalah tokoh tua penasehat Sutawijaya yang bernama Ki Juru Martani/ Adipati Mandaraka.

Sementara itu Madiun (yang dipimpin oleh Panembahan/Pangeran Timur, putera bungsu Sultan Trenggana) yang sebelumnya berpihak kepada Mataram, rupanya melakukan pembelotan[4].

Pembelotan tersebut kemungkinan besar terjadi karena (1) Panembahan Emas merasa bahwa dirinya adalah keturunan Raja Demak sehingga derajatnya lebih tinggi daripada derajat Senopati (2) kekuatan Bang Wetan / Jawa Timur yang lebih besar daripada Mataram (3) ancaman Mataram merugikan posisi Madiun sehingga harus dilawan dengan bantuan sekutu-sekutu dari Bang Wetan, serta (4) intrik-intrik atau rayuan para penguasa Jawa Timur agar Madiun berpihak kepada Jawa Timur.

Pada tahun 1590 di bulan Muharam, Senopati, Raja Mataram, dan sekitar 8000 prajuritnya, berangkat ke Madiun(31). Sementara itu di Madiun sudah berkumpul pasukan gabungan dari Jawa Timur (diberitakan sebanyak 70.000 orang). Dikabarkan pasukan Mataram mengambil posisi di Kali Dadung, sebelah barat Madiun. Sementara pasukan Bang Wetan mengambil posisi di sebelah timur sungai.

Melihat bahwa kekuatan pasukannya lebih kecil dibandingkan lawannya, maka Senopati menjalankan taktik. Ia mengirim selirnya, Nyai Adisara, yang diantar oleh 40 orang pengiringnya, diutus menghadap Panembahan Mas / Panembahan Madiun.

Tanpa mendapat kesulitan, tandu yang berisi wanita mempesonakan itu dapat menghadap Panembahan Emas. Ia tidak menyangka dan terpesona oleh kecantikan Nyai Adisara. Tergoda oleh kecantikan Nyai Adisara, Panembahan Emas percaya tawaran tertulis Senopati bahwa ia akan takkluk. Apalagi Nyai Adisara minta air bekas cucian kaki Panembahan Emas untuk dipakai sebagai air minum Senopati.Nyai Adisara pun kemudian kembali ke kemah Senopati di sebelah barat sungai.

Keesokan harinya dikabarkan bahwa sebagian pasukan Jawa Timur pulang kembali ke wilayahnya masing-masing. Sementara yang tinggal kurang waspada.

Senopati lalu melakukan serangan di waktu fajar dari 3 jurusan. Senopati dikisahkan memakai baju Kiai Gundil di atas kuda Puspa Kencana turut serta dalam serbuan tersebut. Kudanya terbunuh sekitar pukul 9 pagi tetapi masih dapat berlari sampai pukul 12. Rupanya pasukan Jawa Timur tidak siap sehingga tidak mampu menjalankan siasat untuk menghadapi serangan tersebut.

Merasa tidak mampu menahan serbuan Senopati, Pangeran Mas dan anaknya (Ca) Lontang lari ke timur (ke Wirasaba/Mojoagung atau ke Japan / Mojokerto), meninggalkan Ratna Dumilah (anak Panembahan Mas/cicit Sunan Kalijaga) yang bertahan di Madiun. Dikabarkan bahwa Retno Dumilah ini sempat bertempur melawan Senopati dengan menggunakan keris Kiai Gumarang walaupun akhirnya kalah dan kemudian menjadi isteri Senopati. Sementara itu adik Retna Dumilah yang bernama Mas (Ca) Lontang kemudian menjadi adipati di Japan (Mojokerto).

Perkawinan Retna Jumilah dengan Sutawijaya membuahkan tiga anak, yakni RM Julig, R Bagus / R Adipati Juminah/Panembahan Madiun dan R Mas Kanitren / Pangeran Adipati Martalaya ing Madiun. Sementara itu perkawinan Nyi Adisara dengan Senopati juga membuahkan anak yang bernama RM Kentol Kajoran/Kajuran.

Pelajaran yang dapat ditarik dalam kisah sejarah ini antara lain adalah :

· Wanita cantik seringkali dijadikan umpan untuk memperdayai musuh. Demikian pula Nyi Adisara, sadar atau tidak sadar, telah menjadi alat Senopati untuk mengelabui Penguasa Madiun.

· Ada wanita – di antaranya adalah adalah Retna Jumilah- yang mempunyai keberanian luar biasa sehingga mau menyongsong musuhnya untuk berperang. Namun karena rayuan lelaki, sehebat-hebatnya wanita tersebut melawan akhirnya menyerah juga bahkan mau diperisteri dengan resiko bahwa ia akan dijauhi oleh keluarganya sendiri.

Referensi

· HJ De Graaf dan TH G TH Pigeaud; 1989. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Grafitipers, Jakarta

· HJ De Graaf, Dr, 1987. Awal Kebangkitan Mataram. Grafitipers, Jakarta

· Christopher Buyers,2002. Dinasti Surakarta (Internet)




[1] Jaka Tingkir/Sultan Hadiwijaya mempunyai beberapa anak, di antaranya adalah Pangeran Banawa I, seorang wanita yang menjadi isteri Aria Pangiri / Adipati Demak, seorang wanita yang menjadi isteri Adipati Tuban dan Ratu Sekar Kedaton. Kemungkinan besar Aria Pangiri / Adipati Demak adalah anak Sunan Prawoto. Dengan demikian kemungkinan besar Aria Pangiri adalah cucu Trenggana (HJ De Graaf dan TH G TH Pigeaud; 1989).

[2] Diberitakan bahwa pada bulan November 1604, Aria Pangiri dibunuh oleh anaknya sendiri, Pangeran Mas, saat berada di kapal yang sedang berlayar dari Banten ke kota lain (HJ De Graaf, 1987)

[3] Untuk mencegah perang sekaligus untuk menjawab pertanyaan Senopati, Sunan di Giri mengirim utusan dengan membawa teka-teki dihadapan perutusan Senopati dan Jawa Timur yang sedang berhadapan di Japan/Mojokerto. Teka-teki pertama berisi pertanyaan “Pilih mana kulit atau isinya ?”. Raja Surabaya yang mendapat kesempatan pertama memilih isi, sedangkan Senopati memilih kulit. Kelak di kemudian hari ditafsirkan bahwa yang dimaksud isi adalah orang / penduduk sedangkan yang dimaksud dengan kulit adalah tanah. Penduduk harus tunduk kepada pemilik tanah. Kalau tidak akan diusir.

Atas dasar jawaban itu Senopati bertanya lagi kepada Sunan di Giri. Empatpuluh santri yang datang dari Giri kemudian memberi jawaban yang juga berupa teka-teki yang isinya : “Pilih mana, buah hasil masa kini ataukah apa yang akan dihasilkan Jawa di masa depan ? Senopati rupanya memilih masa depan. Atas dasar pilihan tersebut, kedua pihak rujuk dan pulang.

Sesudah itu Sunan di Giri menyatakan kepada Senopati bahwa pilihan Senopati adalah pilihan yang tepat (HJ De Graaf, 1987).

[4] Sultan Trenggana mempunyai beberapa anak, antara lain : Sunan Prawoto (meninggal sekitar yahun 1549), Ratu Kalinyamat, Panembahan Timur (Panembahan Emas) dan seorang anak yang diperisteri Mas Karebet (Jaka Tingkir / Sultan Hadiwijaya). Ibu Panembahan Timur diberitakan adalah anak Sunan Kalijaga. Jadi Panembahan Timur adalah cucu Sunan Kalijaga. Setelah Sultan Trenggana wafat, Panembahan Timur dipelihara oleh Sultan Hadiwijaya, penguasa Pajang. Panembahan Timur kawin dengan anak Pangeran Adipati Sabrang Kulon ing Demak (putera Raja Demak pertama) dan dikaruniai 24 anak. Anak Panembahan Timur yang diketahui adalah Retno Dumilah dan (Ca) Lontang. Dengan demikian dalam darah Retno Dumilah terdapat darah Demak yang kuat karena baik bapak maupun ibunya sama-sama keturunan Raden Patah, Raja Demak yang pertama. Ia juga cicit Sunan Kalijaga (HJ De Graaf dan TH G TH Pigeaud; 1989).

1 komentar: