Sabtu, 09 Juli 2011

Dyah Pitaloka

Korban Kawin Politik


Salah satu artis terkenal tahun 2004, terutama karena peran “dungunya” dalam sinetron komedi “Bajaj Bajuri”, bernama Rieke Diah Pitaloka. Nama itu diberikan oleh orang tuanya tentunya bukan asal-asalan namun ada dasarnya. Mungkin bapak dan atau ibu artis tersebut kagum atas riwayat Dyah Pitaloka yang memang menjadi legenda di bumi Priangan sampai saat ini. Karena kekaguman itulah mereka memberi nama anaknya mirip nama perempuan yang melegenda itu dengan tentunya diberi tambahan nama lain agar tidak persis sama.

Lantas siapakah sebenarnya Dyah (Diah) Pitaloka yang menjadi legenda ini? Untuk menguak siapa sesungguhnya wanita itu mau tidak mau kita perlu mengupas sejarah masa lampau. Di antaranya adalah sejarah Majapahit dan sejarah Tatar Sunda.

Dalam mengupas sejarah Majapahit, mau tidak mau kita akan sempat melihat nama rajanya yang terkenal, yakni Hayam Wuruk. Hayam Wuruk adalah raja Majapahit yang memerintah antara tahun 1350 sampai tahun 1389.

Boleh dikatakan kebesaran raja Hayam Wuruk tidak lepas dari jasa Mahapatih Gajah Mada, yang karena sumpah Palapanya, sangat berambisi untuk mempersatukan Nusantara di bawah Majapahit. Ambisi itu berhasil diwujudkan kecuali Tatar Sunda yang wilayahnya meliputi wilayah Jawa Barat lebih sedikit (diperkirakan Cilacap masuk Tatar Sunda).

Belum tunduknya Tatar Sunda tentunya ada sebabnya. Kemungkinan besar karena leluhur Majapahit (Raden Wijaya) dianggap juga berdarah Sunda[1]. Bagi Gajah Mada, belum tunduknya Tatar Sunda merupakan tantangan besar.

Gajah Mada perlu memanjangkan akal untuk mencari cara yang tepat dalam usahanya untuk menundukkan wilayah yang penuh keindahan itu.

Kebetulan sekali Hayam Wuruk belum memiliki permaisuri. Sementara itu Raja Sunda, Prabu Linggabuana / Prabu Maharaja (1350-1357 M), diketahui mempunyai puteri yang konon cantik jelita bernama Dyah Pitaloka.

Gajah Mada rupanya jeli melihat peluang itu. Ia berusaha menjodohkan Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk dan pada kesempatan itu Gajah Mada berharap untuk dapat menjadikan Tatar Sunda sekaligus tunduk kepada Majapahit. Caranya adalah dengan mengadakan upacara perkawinan bukan di Sunda tetapi di Majapahit. Dengan cara ini mau tidak mau sang pengantin perempuan akan diantar oleh ayahandanya ke Majapahit sehingga seolah-olah Raja Sunda tunduk kepada Majapahit dengan mempersembahkan puterinya sebagai upeti.

Gajah Mada, tanpa mengutarakan maksud yang sebenarnya kepada Hayam Wuruk, memberitahukan kepada rajanya itu bahwa ada puteri cantik dari Sunda yang patut dijadikan permaisuri. Rupanya Gajah Mada sudah mendapatkan lukisan puteri tersebut sehingga saat meihatnya, Hayam Wuruk lantas jatuh cinta.

Atas usul Gajah Mada, Hayam Wuruk secara resmi mengirim utusan ke Kawali, ibukota Tatar Sunda, untuk meminang. Pinangan diterima dan disusunlah rencana pelaksanaan perhelatan besar kerajaan. Entah apa sebabnya, mungkin karena kelihaian diplomasi, tawaran Gajah Mada untuk mengadakan perkawinan di Majapahit diterima oleh Raja Sunda.

Pada tahun 1357, Raja Sunda Prabu Linggabuana / Prabu Maharaja (1350-1357 M), diiringi sekitar 100 orang pejabat, pengiring dan pengawalnya berangkat ke Majapahit melalui laut mengantarkan Dyah Pitaloka. Rombongan ini kemudian berkemah di alun-alun Bubat, di utara ibukota Majapahit.

Pada saat upacara perkawinan akan dimulai, terjadi masalah (tentunya karena taktik Gajah Mada). Semula Raja Sunda mengira bahwa rombongan pengantin pria akan datang menjemput namun pihak Gajah Mada meminta sebaliknya. Raja Sunda harus mengantarkan puterinya ke Keraton Majapahit. Permintaan itu ditolak oleh Raja Sunda. Mudah dipahami karena masalah harga diri.

Keduanya, yang saling menuntut itu, kemudian saling berhadapan di alun-alun Bubat. Entah siapa yang memulai, mungkin karena suasana menjadi genting, terjadilah pertempuran antara kedua pihak dalam kondisi yang tidak sebanding. Dapat diduga bahwa kekuatan pasukan Tatar Sunda jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pasukan Majapahit. Dalam peristiwa ini Linggabuana (Raja Galuh-Kawali), Dyah Pitaloka (anak Linggabuana) dan banyak pejabat Galuh tewas. Dikabarkan bahwa Dyah Pitaloka tewas karena bunuh diri. Menurut catatan sejarah, peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tanggal 13 bagian terang bulan 1279 Saka[2].

Sepeninggal Linggabuana yang tewas di Bubat itu, Bunisora – adik Linggabuana - kemudian menjadi wali Kerajaan Kawali Galuh pada periode antara tahun 1357-1371 karena Wastu Kancana, anak Linggabuana, masih berusia 9 tahun. Gelar Bunisora Prabu Batara Guru Pangadipa-ramarta Janadewabrata dan disebut Batara Guru di Jampang atau Prabu Kuda Lalean[3].

Sementara itu karena kejadian yang tragis di Bubat tersebut, Hayam Wuruk mengirimkan utusan ke Kawali dan diterima oleh adik Linggabuana yang bergelar Mangkubumi Suradipati. Utusan tersebut terdiri dari Darmajaksa (pemimpin) agama Syiwa, Darmajaksa Budha, Darmajaksa Wisnu masing-masing beserta pengiringnya dan pengawal kerajaan. Tentunya utusan – yang berlatar belakang agama tersebut – mencoba untuk menjelaskan duduk persoalan dan sekaligus meminta maaf atas kejadian tersebut atas nama Raja Majapahit.

Mangkubumi Suradipati lalu mengirim utusan ke Majapahit untuk mengambil semua abu mayat yang meninggal untuk dibawa ke Kawali. Abu Linggabuana kemudian dikebumikan di tanah kelahirannya. Kelak karena dikenal bijaksana, maka ia digelari Prabu Wangi[4].

Walaupun permintaan maaf telah disampaikan dan abu jenazah telah dibawa pulang bukan berarti urusan telah selesai. Karena belum yakin benar tentang kesungguhan Majapahit, Bunisora masih menyiagakan pasukan. Armada Sunda ditempatkan di muara Kali Brebes (Cipamali). Rupanya Hayam Wuruk tetap memegang janjinya sehingga ketika Majapahit mengirimkan ekspedisi ke Sumatera, Hayam Wuruk memberitahu terlebih dahulu kepada Bunisora bahwa armadanya hanya akan lewat saja[5].

Akibat peristiwa Bubat tersebut Hayam Wuruk jatuh sakit cukup lama. Keluarga kerajaan beranggapan bahwa penyebab peristiwa ini semua adalah Gajah Mada. Mereka akan menangkapnya namun Gajah Mada berhasil lolos dan menghilang. Kelak setelah Hayam Wuruk beberapa tahun kawin dengan perempuan lain, Gajah Mada diampuni.

Hayam Wuruk memang akhirnya kawin, yakni dengan Paduka Sori / Ratu Ayu Kusumadewi, anak Wijayarajasa/Bhre Wengker dari hasil perkawinannya dengan Rajadewi Maharajasa / Bhre Daha (bibi Hayam Wuruk). Dari hasil perkawinan Hayam Wuruk dengan permaisuri ini lahirlah Kusumawardhani (bergelar Bhre Lasem)[6], yang kelak menjadi putera mahkota. Sementara itu dari perkawinannya dengan seorang wanita lain (selir), Hayam Wuruk dikaruniai anak Bhre Wirabhumi yang kelak menjadi penguasa Blambangan, di ujung timur Pulau Jawa [7].

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah tentang Dyah Pitaloka ini antara lain adalah :

· Terjadi pencampuradukan antara cinta dengan politik dan Dyah Pitaloka -yang mungkin tidak tahu apa-apa - menjadi salah satu korbannya.

· Dyah Pitaloka, yang menanggung malu, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kehormatan diri dan keluarga mungkin dianggapnya lebih utama dibandingkan nyawanya.

· Di Jawa Barat, jarang bahkan boleh dikatakan tidak ada nama jalan Gajahmada, Hayam Wuruk dan Majapahit. Mungkin sudah menjadi trauma di masyarakat di sana sejak peristiwa Bubat tersebut.

· Sampai akhir dinasti Majapahit, wilayah Jawa Barat tetap tidak berada di bawah Majapahit. Sumpah Palapa Gajah Mada belum berhasil digenapi. Namun dengan kemerdekaan Indonesia, di mana sudah tidak ada Majapahit lagi, seluruh kepulauan Nusantara bersatu kembali bukan karena Sumpah Palapa, namun karena Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.

Referensi :
· Soekmono, 1993. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II. Penerbit Kanisius, Jakarta

· Tim Penulis Sejarah, 1984. Sejarah Jawa Barat. Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, Bandung.

· Sri Wanto AW, 1996. Pegangan Belajar Sejarah I Untuk SLTP Kelas 1. PT Galaxi Puspa Mega, Jakarta.



[1] Mahisa Campaka – cucu Ken Arok dan Ken Dedes - berbesan dengan Darmasiksa, Raja Sunda. Hal itu terjadi karena anak Mahisa Campaka yang bernama Dyah Lembu Tal diperisteri oleh Rakeyan Jayadarma (putera mahkota / anak raja Sunda Darmasiksa. Putera Mahkota tersebut meninggal sebelum menjadi raja dan Dyah Lembu Tal serta anak mereka, Raden Wijaya, kembali ke Singasari. Raden Wijaya kemudian menjadi menantu Kertanegara (Raja Singasari terakhir). Raden Wijaya inilah yang menjadi pendiri Kerajaan Majapahit. Dalam babad Tanah Jawa, Raden Wijaya disebut Raden Susuruh (Tim Penulis Sejarah, 1984).

[2] Para pejabat Kawali yang tewas antara lain adalah : Rakean Tumenggung Larang Ageng, Rakean Mantri Sohan, Yuwamantri (menteri muda) Gempong Lotong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Penghulu Sura, Rakean Mantri Saya, Rakean Rangga Kaweni, Sang Mantri Usus (bayangkara Prabu Maharaja), Rakean Senapati Yuda Surajali, Rakean Juru Siring, Ki Jagat Saya (patih Mandala Kidul), Sang Mantri Putih Wirayuda, Rakean Nakoda Braja (panglima pasukan laut), Ki Nakoda Bule (pemimin kapal kerajaan), Ki Juru wastra, Ki Mantri Sebrang Keling, Ki Mantri Supit Kelingking (Tim Penulis Sejarah, 1984)

[3] Tim Penulis Sejarah, 1984

[4] Tim Penulis Sejarah, 1984

[5] Tim Penulis Sejarah, 1984

[6] Soekmono, 1993

[7] Sri Wanto AW, 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar